Hukum dan prinsip latihan.Banyak sistem yang mempengaruhi perencanaan
latihan. Bagaimanapunseorang pelatih dalam menggunakan program latihan
untuk atletnya maka harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. Untuk
memahami prinsip latihan inimaka kita coba kaji berdasar pada kajian
Ilmu Faal (Fisiologik), Ilmu Jiwa(Psikologik), dan Ilmu Kependidikan
(Pedagogik).
A.HUKUM FISIOLOGIK
Semua sistem latihan dipengaruhi oleh tiga hukum fisiologik, yaitu :
hukum OVERLOAD, hukum KEKHUSUSAN (Specificity), dan hukum REVERSIBILITAS
(Reversibility). Prinsip-prinsip lainnya disebutkan oleh para pelatih
sebagai aspek-aspek yang terkandung dalam tiga prinsip tersebut.
a.Hukum Overload (Law of Overload)
Hukum ini adalah yang banyak memperbaiki dalam kebugaran
seorangatlet, sehingga membutuhkan suatu peningkatan beban latihan yang
akanmenantang keadaan kebugaran atlet.Bahwa beban latihan berfungsi
sebagai suatu stimulus danmendatangkan suatu respon dari tubuh atlet.
Apabila beban latihan lebih beratdaripada beban normal pada tubuh maka
tubuh akan mengalami kelelahansehingga tingkat kebugaran akan menjadi
lebih rendah dari tingkat kebugarannormal. Hal ini akan membutuhkan masa
pemulihan yang lebih lama.Artinya, pembebanan akan menyebabkan
kelelahan, dan ketika pembebanan berakhir, maka pemulihan berlangsung.
Jika pembebanan optimal (tidak terlalu ringan dan juga tidak terlalu
berat) maka setelah pemilihan penuhtingkat kebugaran akan meningkat
lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya.
I.Prinsip Individualisasi
Reaksi masing-masing atlet terhadap suatu rangsangan latihan terjadi
dengancara yang berbeda. Perbedaan tersebut karena usia dan jenis
kelamin.Perencanaan latihan dibuat berdasarkan perbedaan individu atas
kemampuan(abilities), kebutuhan (needs), dan potensi (potential). Tidak
ada programlatihan yang dapat disalin secara utuh dari satu individu
untuk individu yanglain. Program latihan yang efektif hanya cocok untuk
individu yang telahdirencanakan.Pelatih harus mempertimbangkan faktor
usia kronologis dan usia biologis(kematangan fisik) atlet, pengalaman
dalam olahraga, tingkat keterampilan(sklill), kapasitas usaha dan
prestasi, status kesehatan, kapasitas beban latihan(training load) dan
pemulihan, tipe antropometrik dan system syaraf, dan perbedaan seksual
(terutama saat pubertas).
II.Prinsip Pengembangan Multilateral
Pengembangan menyeluruh ini berkaitan dengan keterampilan gerak
secaraumum (general motor ability) dan pengembangan kebugaran sebagai
tujuanutama yang terjadi pada bagian awal dari perencanaan latihan
tahunan.Prinsip ini harus menjadi focus utama dalam melatih anak-anak
dan atlet junior. Hal ini adalah merupakan langkah pertama dari
rangkaian pendekatanuntuk latihan olahraga (prestasi).
b.Hukum Kekhususan (Law of Specificity)
Hukum kekhususan adalah bahwa beban latihan yang alami
menentukanefek latihan. Latihan harus secara khusus untuk efek yang
diinginkan. Metodelatihan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan
latihan. Beban latihanmenjadi spesifik ketika itu memiliki rasio latihan
(beban terhadap latihan) danstruktur pembebanan (intensitas terhadap
beban latihan) yang tepat.
Prinsip Spesialisasi
Prinsip ini melatih kapasitas dan teknik yang dibutuhkan untuk
aktivitaskhusus atau nomor khusus. Contoh, dalam atletik seorang
pelempar membutuhkan latihan kekuatan khusus dan juga teknik khusus pada
masiing-masing nomor lempar. Seorang perenang membutuhkan kecepatan dan
dayatahan kecepatan serta daya tahan kekuatan sesuai dengan nomornya,
begitu pula teknik yang dibutuhkannya. Semuanya itu harus dilakukan
secara khusussetelah melewati fase latihan yang menyeluruh
(multilateral).
Prinsip Model Proses Latihan
Model ini dimanfaatkan untuk mengembangkan pola-pola latihan yang
eratdengan kaitannya dengan kebutuhan kompetisi. Pola yang paling
sulitmembutuhkan waktu yang cukup lama (tahunan) agar menjadi sempurna.
Halini tentunya harus diawali dengan kemampuan pelatih dalam
menganalisasetiap kompetisi. Contoh dalam olahraga permainan, bagaimana
pola-pola permainan itu harus berjalan sesuai dengan kebutuhan setiap
kompetisi (saatmenghadapi lawan berat atau lawan yang lebih ringan),
bagaimana pola pertahanan dan penyerangan yang baik dan harmonis.
c.Hukum Reversibilitas (Law of Reversibility)
Hukum ini adalah bahwa tingkat kebugaran akan menurun jika pembebanan latihan tidak dilanjutkan (continued).
Prinsip Meningkatkan Tuntutan
Dalam pembebanan latihan, tuntutan ini adalah bahwa beban latihan
harus berkelanjutan jika kebugaran umum dan khusus atlet terus
ditingkatkan, beban latihan harus ditingkatkan secara regular
(progressive overload). Rasio
latihan adalah kritis. Seorang pelatih harus menentukan berapa lama pemulihan dibutuhkan dalam suatu sesi dan antar sesi.
Prinsip Melanjutkan Tuntutan Beban
Prinsip ini mengungkapkan bahwa atlet jangan terlalu lama berhenti
berlatih.ketika pemuncakan sedang berlangsung dan beban latihan
dikurangi makahasilnya akan menurunkan kondisi.Prinsip Kemungkinan dapat
terjadi dengan mudah (Feasibility)Prinsip ini menyatakan bahwa beban
latihan yang telah direncanakanharuslah realistic. Tujuan latihan tidak
boleh mengakibatkan rusaknya atauhancurnya prestasi atlet yang
disebabkan oleh tujuan yang tidak realistic. Halini bukan saja merusak
secara fisik, akan tetapi juga akan berakibat padakondisi psikologik.
Tujuan latihan haruslah sesuai dengan kemampuanseseorang (atlet) yang
tentunya berdasar pada hasil tes parameter yangdirencanakan dan
dilaksanakan secara periodik sesuai kebutuhan setiaptahapan sehingga
prestasi menjadi berkembang, tidak mengecilkan hati atau gagal.
2.HUKUM PSIKOLOGIK
a.Prinsip Aktif, Partisipasi Sungguh-sungguh (Active, Conscientious Participation)
Prinsip ini mengandung makna bahwa untuk menghasilkan prestasi
yangmaksimal atlet harus terlibat secara aktif dalam proses latihan yang
telahdipilihnya. Prinsip ini sering luput dari perhatian atlet dan juga
pelatih. Atlet berpartisipasi secara pasif, hanya mengikuti saja apa
yang diperintahkan ataumenunggu pemberian motivasi dari pelatih tanpa
didasari atas kesungguhanuntuk melakukan latihan bahwa
latihan adalah suatu kebutuhan.
Latihan adalah suatu bentuk kerja sama antara atlet dan pelatih yangmengandung resiko. Atlet
b.Prinsip Kesadaran (Awareness)
Prinsip ini menunjuk pada kebutuhan bahwa pelatih menjelaskan pada
atletapa yang terlibat dalam program latihan, apa yang menjadi tujuan
latihan, dan bagaimana mencapainya. Dalam hal ni juga atlet harus
menyadari akan posisinya sebagai orang yang juga harus berpartisipasi
aktif dalam perencanaan dan evaluasi latihan.
c.Prinsip Variasi (Variety)
Kompleksnya latihan dan tingginya tingkat pembebanan dalam latihan
untuk sukses membutuhkan variasi bentuk latihan dan metode latihan agar
tidak terjadi kejenuhan / kebosanan (boredom) atau basi (staleness).
Faktor kebosanan ini akan menjadi kritis apabila kurang bervariasi
seperti padagerakan (hanya) lari saja yang secara teknik tidak begitu
kompleks (terbatas)dan membutuhkan faktor fisiologik.
d.Prinsip Istirahat Psikologik (Psychological Rest)
Saat kelelahan terjadi seorang atlet akan mengalami ketegangan mental
atauketegangan psikologis (psychological strain), bukan hanya kelelahan
fisik saja. Oleh karena itu, selain harus meningkatkan kemampuan fisik
menjadiistimewa, harus pula mampu mengalihkan situasi yang akan
mengakibatkanmunculnya tekanan-tekanan (stress) seperti pada kompetisi
atau latihan.Bagian ini penting untuk membantu proses istirahat
psikologis.
C.HUKUM PEDAGOGIK
Prinsip-prinsip yang ada dalam hukum ini akan membantu atlet dan
pelatihuntuk lebih memaknai proses pembelajaran / pelatihan melalui
pendidikan.
a.Prinsip Perencanaan dan Pemanfaatan system (Planning and Use of System)
Prinsip ini membutuhkan apa yang disebut dengan disain program
latihanyang sistematis dan efesien, dari program jangka panjang sampai
dengan unitlatihan yang dibutuhkan oleh setiap atlet secara individu.
Prinsip inimembutuhkan ketelitian, kehati-hatian, dan mempertemukan
semuakebutuhan latihan secara efektif. Melalui prinsip ini, atlet dan
pelatihmengalami proses pembelajaran yang selalu sistematis dan
terencana.
b.Prinsip Periodisasi (Periodization)
Prinsip periodisasi adalah mengembangkan program latihan melalui
seri-seridari setiap siklus atau tahapan berdasarkan pada standar
prestasi setiapcabang olahraga. Prinsip ini terkait dengan perencanaan
program latihan yangakan disusun.Tahapan latihan yang lazim dimanfaatkan
adalah Tahap Persiapan (PersiapanUmum dan Persiapan Khusus), Tahap
Kompetisi (Pra Kompetisi danKompetisi Utama), dan Tahap Transisi.
Prinsip ini mengajak pelatih untuk senantiasa manjalani proses melalui
tahapan yang jelas dan teratur.
c.Prinsip Presentasi Visual (Visual Presentation)
Prinsip ini mencoba untuk memberikan informasi latihan yang
sejelasmungkin kepada atlet, sewaktu-waktu, audio-visual dapat
diimanfaatkanuntuk membantu atlet dalam memahami materi latihan yang
telah, sedang,dan atau akan diberikan dalam proses latihannya.Proses
pembelajaran/pendidikan seperti ini penting bagi atlet untuk bias
lebihmemahami apa yang seharusnya dilakukan dan yang cukup penting
adalah bagaimana seorang atlet mampu mengoreksi sendiri (self
correction) apayang menjadi hal penting dalam meningkatkan prestasinya.
Prinsip-prinsiplatihan yang dikaji berdasarkan tiga disiplin ilmu itu
penting sekali bagi pegangan para pelatih untuk lebih memahami tuntutan
dan kebutuhan latihanagar menjadi lebih efektif dan efesien.
Referensi :William H. Freeman.
Peak When It Count
. Los Altos : Tafnews Press. 1989
Tidak ada komentar:
Posting Komentar