Maaf Kalau Musiknya Berisik

Senin, 22 Oktober 2012

Prinsip Dan Hukum Dalam Kepelatihan Olahraga

Hukum dan prinsip latihan.Banyak sistem yang mempengaruhi perencanaan latihan. Bagaimanapunseorang pelatih dalam menggunakan program latihan untuk atletnya maka harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. Untuk memahami prinsip latihan inimaka kita coba kaji berdasar pada kajian Ilmu Faal (Fisiologik), Ilmu Jiwa(Psikologik), dan Ilmu Kependidikan (Pedagogik).

A.HUKUM FISIOLOGIK
Semua sistem latihan dipengaruhi oleh tiga hukum fisiologik, yaitu : hukum OVERLOAD, hukum KEKHUSUSAN (Specificity), dan hukum REVERSIBILITAS (Reversibility). Prinsip-prinsip lainnya disebutkan oleh para pelatih sebagai aspek-aspek yang terkandung dalam tiga prinsip tersebut.

a.Hukum Overload (Law of Overload)
Hukum ini adalah yang banyak memperbaiki dalam kebugaran seorangatlet, sehingga membutuhkan suatu peningkatan beban latihan yang akanmenantang keadaan kebugaran atlet.Bahwa beban latihan berfungsi sebagai suatu stimulus danmendatangkan suatu respon dari tubuh atlet. Apabila beban latihan lebih beratdaripada beban normal pada tubuh maka tubuh akan mengalami kelelahansehingga tingkat kebugaran akan menjadi lebih rendah dari tingkat kebugarannormal. Hal ini akan membutuhkan masa pemulihan yang lebih lama.Artinya, pembebanan akan menyebabkan kelelahan, dan ketika pembebanan berakhir, maka pemulihan berlangsung. Jika pembebanan optimal (tidak terlalu ringan dan juga tidak terlalu berat) maka setelah pemilihan penuhtingkat kebugaran akan meningkat lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya.
 I.Prinsip Individualisasi
Reaksi masing-masing atlet terhadap suatu rangsangan latihan terjadi dengancara yang berbeda. Perbedaan tersebut karena usia dan jenis kelamin.Perencanaan latihan dibuat berdasarkan perbedaan individu atas kemampuan(abilities), kebutuhan (needs), dan potensi (potential). Tidak ada programlatihan yang dapat disalin secara utuh dari satu individu untuk individu yanglain. Program latihan yang efektif hanya cocok untuk individu yang telahdirencanakan.Pelatih harus mempertimbangkan faktor usia kronologis dan usia biologis(kematangan fisik) atlet, pengalaman dalam olahraga, tingkat keterampilan(sklill), kapasitas usaha dan prestasi, status kesehatan, kapasitas beban latihan(training load) dan pemulihan, tipe antropometrik dan system syaraf, dan perbedaan seksual (terutama saat pubertas).
 II.Prinsip Pengembangan Multilateral
Pengembangan menyeluruh ini berkaitan dengan keterampilan gerak secaraumum (general motor ability) dan pengembangan kebugaran sebagai tujuanutama yang terjadi pada bagian awal dari perencanaan latihan tahunan.Prinsip ini harus menjadi focus utama dalam melatih anak-anak dan atlet junior. Hal ini adalah merupakan langkah pertama dari rangkaian pendekatanuntuk latihan olahraga (prestasi).


b.Hukum Kekhususan (Law of Specificity)
 Hukum kekhususan adalah bahwa beban latihan yang alami menentukanefek latihan. Latihan harus secara khusus untuk efek yang diinginkan. Metodelatihan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan latihan. Beban latihanmenjadi spesifik ketika itu memiliki rasio latihan (beban terhadap latihan) danstruktur pembebanan (intensitas terhadap beban latihan) yang tepat.
 Prinsip Spesialisasi
Prinsip ini melatih kapasitas dan teknik yang dibutuhkan untuk aktivitaskhusus atau nomor khusus. Contoh, dalam atletik seorang pelempar membutuhkan latihan kekuatan khusus dan juga teknik khusus pada masiing-masing nomor lempar. Seorang perenang membutuhkan kecepatan dan dayatahan kecepatan serta daya tahan kekuatan sesuai dengan nomornya, begitu pula teknik yang dibutuhkannya. Semuanya itu harus dilakukan secara khusussetelah melewati fase latihan yang menyeluruh (multilateral).
 Prinsip Model Proses Latihan
Model ini dimanfaatkan untuk mengembangkan pola-pola latihan yang eratdengan kaitannya dengan kebutuhan kompetisi. Pola yang paling sulitmembutuhkan waktu yang cukup lama (tahunan) agar menjadi sempurna. Halini tentunya harus diawali dengan kemampuan pelatih dalam menganalisasetiap kompetisi. Contoh dalam olahraga permainan, bagaimana pola-pola permainan itu harus berjalan sesuai dengan kebutuhan setiap kompetisi (saatmenghadapi lawan berat atau lawan yang lebih ringan), bagaimana pola pertahanan dan penyerangan yang baik dan harmonis.

c.Hukum Reversibilitas (Law of Reversibility)
Hukum ini adalah bahwa tingkat kebugaran akan menurun jika pembebanan latihan tidak dilanjutkan (continued).
 Prinsip Meningkatkan Tuntutan
Dalam pembebanan latihan, tuntutan ini adalah bahwa beban latihan harus berkelanjutan jika kebugaran umum dan khusus atlet terus ditingkatkan, beban latihan harus ditingkatkan secara regular (progressive overload). Rasio
 latihan adalah kritis. Seorang pelatih harus menentukan berapa lama pemulihan dibutuhkan dalam suatu sesi dan antar sesi.
 Prinsip Melanjutkan Tuntutan Beban
Prinsip ini mengungkapkan bahwa atlet jangan terlalu lama berhenti berlatih.ketika pemuncakan sedang berlangsung dan beban latihan dikurangi makahasilnya akan menurunkan kondisi.Prinsip Kemungkinan dapat terjadi dengan mudah (Feasibility)Prinsip ini menyatakan bahwa beban latihan yang telah direncanakanharuslah realistic. Tujuan latihan tidak boleh mengakibatkan rusaknya atauhancurnya prestasi atlet yang disebabkan oleh tujuan yang tidak realistic. Halini bukan saja merusak secara fisik, akan tetapi juga akan berakibat padakondisi psikologik. Tujuan latihan haruslah sesuai dengan kemampuanseseorang (atlet) yang tentunya berdasar pada hasil tes parameter yangdirencanakan dan dilaksanakan secara periodik sesuai kebutuhan setiaptahapan sehingga prestasi menjadi berkembang, tidak mengecilkan hati atau gagal.

2.HUKUM PSIKOLOGIK

a.Prinsip Aktif, Partisipasi Sungguh-sungguh (Active, Conscientious Participation)
Prinsip ini mengandung makna bahwa untuk menghasilkan prestasi yangmaksimal atlet harus terlibat secara aktif dalam proses latihan yang telahdipilihnya. Prinsip ini sering luput dari perhatian atlet dan juga pelatih. Atlet berpartisipasi secara pasif, hanya mengikuti saja apa yang diperintahkan ataumenunggu pemberian motivasi dari pelatih tanpa didasari atas kesungguhanuntuk melakukan latihan bahwa
latihan adalah suatu kebutuhan.
Latihan adalah suatu bentuk kerja sama antara atlet dan pelatih yangmengandung resiko. Atlet

b.Prinsip Kesadaran (Awareness)
Prinsip ini menunjuk pada kebutuhan bahwa pelatih menjelaskan pada atletapa yang terlibat dalam program latihan, apa yang menjadi tujuan latihan, dan bagaimana mencapainya. Dalam hal ni juga atlet harus menyadari akan posisinya sebagai orang yang juga harus berpartisipasi aktif dalam perencanaan dan evaluasi latihan.

c.Prinsip Variasi (Variety)
Kompleksnya latihan dan tingginya tingkat pembebanan dalam latihan untuk sukses membutuhkan variasi bentuk latihan dan metode latihan agar tidak terjadi kejenuhan / kebosanan (boredom) atau basi (staleness). Faktor kebosanan ini akan menjadi kritis apabila kurang bervariasi seperti padagerakan (hanya) lari saja yang secara teknik tidak begitu kompleks (terbatas)dan membutuhkan faktor fisiologik.
d.Prinsip Istirahat Psikologik (Psychological Rest)
Saat kelelahan terjadi seorang atlet akan mengalami ketegangan mental atauketegangan psikologis (psychological strain), bukan hanya kelelahan fisik saja. Oleh karena itu, selain harus meningkatkan kemampuan fisik menjadiistimewa, harus pula mampu mengalihkan situasi yang akan mengakibatkanmunculnya tekanan-tekanan (stress) seperti pada kompetisi atau latihan.Bagian ini penting untuk membantu proses istirahat psikologis.

C.HUKUM PEDAGOGIK
Prinsip-prinsip yang ada dalam hukum ini akan membantu atlet dan pelatihuntuk lebih memaknai proses pembelajaran / pelatihan melalui pendidikan.

a.Prinsip Perencanaan dan Pemanfaatan system (Planning and Use of  System)
Prinsip ini membutuhkan apa yang disebut dengan disain program latihanyang sistematis dan efesien, dari program jangka panjang sampai dengan unitlatihan yang dibutuhkan oleh setiap atlet secara individu. Prinsip inimembutuhkan ketelitian, kehati-hatian, dan mempertemukan semuakebutuhan latihan secara efektif. Melalui prinsip ini, atlet dan pelatihmengalami proses pembelajaran yang selalu sistematis dan terencana.

b.Prinsip Periodisasi (Periodization)
 Prinsip periodisasi adalah mengembangkan program latihan melalui seri-seridari setiap siklus atau tahapan berdasarkan pada standar prestasi setiapcabang olahraga. Prinsip ini terkait dengan perencanaan program latihan yangakan disusun.Tahapan latihan yang lazim dimanfaatkan adalah Tahap Persiapan (PersiapanUmum dan Persiapan Khusus), Tahap Kompetisi (Pra Kompetisi danKompetisi Utama), dan Tahap Transisi. Prinsip ini mengajak pelatih untuk senantiasa manjalani proses melalui tahapan yang jelas dan teratur.

c.Prinsip Presentasi Visual (Visual Presentation)
Prinsip ini mencoba untuk memberikan informasi latihan yang sejelasmungkin kepada atlet, sewaktu-waktu, audio-visual dapat diimanfaatkanuntuk membantu atlet dalam memahami materi latihan yang telah, sedang,dan atau akan diberikan dalam proses latihannya.Proses pembelajaran/pendidikan seperti ini penting bagi atlet untuk bias lebihmemahami apa yang seharusnya dilakukan dan yang cukup penting adalah bagaimana seorang atlet mampu mengoreksi sendiri (self correction) apayang menjadi hal penting dalam meningkatkan prestasinya. Prinsip-prinsiplatihan yang dikaji berdasarkan tiga disiplin ilmu itu penting sekali bagi pegangan para pelatih untuk lebih memahami tuntutan dan kebutuhan latihanagar menjadi lebih efektif dan efesien.

Referensi :William H. Freeman.
 Peak When It Count
. Los Altos : Tafnews Press. 1989

Tidak ada komentar:

Posting Komentar