Maaf Kalau Musiknya Berisik

Jumat, 09 November 2018

TEORI ORGANISASI



PENDAHULUAN

1  Latar Belakang

Saat ini organisasi sudah hal yang lumrah disekitar kita, kemana pun kita pergi selalu ada yang namanya organisasi, namun walaupun organisasi adalah hal yang rutin kita jumpai disekitar kita banyak yang ternyata tidak mengetahui apa pengertian dari organisasi dan bagaimana perkembangan dari ilmu teori organisasi tersebut   Komunikasi di dalam organisasitidak terlepas dari perkembangan manajeman dan birokrasi. Komunikasi dalam organisasi merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan dalam organisasi yaitu 75% 95% dari seluruh kegiatanorganisasi. tujuan dari dibuatnya teori komunikasi untuk menjembatani jurang pemisah dalam organisasi, sehingga proses dapat berjalan secara baik dan mencapai tujuan organisasi



BAB II
PEMBAHASAN

1.Pengertian Organisasi
Organisasi merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan perusahaan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen yang dilakukan seorang pimpinan dengan organisasi yang tercipta di perusahaan yang bersangkutan. Menurut Boone dan Katz organisasi didefinisikan sebagai berikut Organisasi adalah suatu proses tersusun yang orang-orangnya berinteraksi untuk mencapai tujuan.Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi mencakup 3 elemen pokok : 1). Interaksi manusia ; 2). Kegiatan yang mengarah pada tujuan dan 3). Struktur organisasi itu sendiri (Kuspriatni, 2009). Organisasi merupakan unit sosial yang dengan sengaja diatur, terdiri atas dua  orang atau lebih yang berfungsi secara relatif terus menerus untuk mencapai sasaran

2. Defenisi dan Tujuan Teori Organisasi
Definisi teori organisasi berfungsi menjelaskan kegiatan dan dinamika kerjasama organisasi dan memberikan tuntunan dalam pengambilan keputusan berdasarkan prediksi akibat pengambilan keputusan tersebut. Menurut Lubis dan Husaini (1987) bahwa teori organisasi adalah sekumpulan ilmu pengetahuan yang membicaraan mekanisme kerjasama dua orang atau lebih secara sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Meskipun studi ini menelusuri akarnya kepada Max Weber dan para pakar yang sebelumnya, studi organisasi biasanya dianggap baru dimulai sebagai disiplin akademik bersamaan dengan munculnya manajemen ilmiah pada tahun 1890-an, dengan Taylorisme yang mewakili puncak dari gerakan ini. Para tokoh manajemen ilmiah berpendapat bahwa rasionalisasi terhadap organisasi dengan rangkaian instruksi dan studi tentang gerak-waktu akan menyebabkan peningkatan produktivitas.

Berdasarkan hal tersebut dirumuskan tujuan teori organisasi secara umum adalah. untuk mempelajari kerjasama pada setiap individu. Hakekat individu dalam kelompok untuk mencapai tujuan beserta cara-cara yang ditempuh dengan menggunakan teori yang dapat menerangkan tingkah laku, terutama motivasi, individu dalam proses kerjasama.

3. Konsep Evolusi Dan Perkembangan Teori Organisasi
Salah satu kejadian paling penting sebelum abad kedua puluh kaitannya dengan perkembangan teori organisasi adalah revolusi industri. Dimulai pada abad ke delapan belas di Inggris, revolusi tersebut menyeberangi samudra Atlantik dan ke Amerika pada akhir perang dunia ke dua. Revolusi tersebut mempunyai dua elemen utama yaitu kekuatan mesin telah menggantikan kekuatan manusia secara cepat, dan pembangunan sarana transfortasi yang cepat mengubah metode pengiriman barang. Hasilnya adalah menyebarnya pendirian pabrik-pabrik

Dampaknya terhadap desain organisasi jelas, yaitu pembangunan pabrik membutuhkan penciptaan yang terus menerus dari struktur-struktur organisasi untuk memungkinkan terjadinya proses produksi yang efisien. Pekerjaan harus dirumuskan, arus pekerjaan harus ditetapkan, departemen diciptakan, dan mekanisme koordinasi dikembangkan, dengan demikian struktur organisasi yang kompleks harus dirancang.

Evolusi merupakan perubahan yang sangat cepat dalam perkembangan organisasi dengan memberikan inovasi baru dalam bentuk keunggulan-keunggulan dan keunikan-keunikan dari perkembangan awal sampai perkembangan yang paling mutakhir dalam teori organisasi. Evolusi atau perkembangan teori organisasi memunculkan berbagai macam pendekatan-pendekatan yang masing-masing dipengaruhi oleh cara yang digunakan untuk meninjaumasalah organisasi. Keseluruhan pendekatan ini bisa dikelompokkan menjadi tiga aliran utama, sesuai kurun waktu permunculan masing-masing pendekatan tersebut, yaitu pendekatan teori klasik, pendekatan neo-klasik dan pendekatan modern.

A.  Teori Organisasi klasik
Teori organisasi yang berkembang mulai awal abad ke 19 digolongkan kedalam teori organisasi klasik atau disebut juga teori tradisional atau teori mesin. Pada masa ini, organisasi divisualisasikan sebagai sekelompok orang yang membentuk lembaga Tiap – tiap bagian organisasi tersebut memiliki spesialisasi dan sentralisasi dalam tugas dan wewenang. Definisi organisasi menurut teori klasik : Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, perana-nperanan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

Teori ini biasa disebut dengan “teori tradisional” atau disebut juga “teori mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik struktural yang kaku tidak mengandung kreatifitas.


B.  Teori Organisasi Neo Klasik
Aliran yang berikutnya muncul adalah aliran Neoklasik disebut juga dengan “Teori Hubungan manusiawi”. Teori ini muncul akibat ketidakpuasan dengan teori klasik dan teori merupakan penyempurnaan teori klasik. Teori ini menekankan pada “pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu ataupun kelompok kerja”.

Aliran teori organisasi Neo-klasik muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap teori organisasi klasik, ketiga teori organisasi yang tergabung dalam teori organisasi klasik tersbut dinilai sangat kaku dan mengabaikan hubungan manusiawi. Teori organisasi neoklasik memberi perhatian khusus pada aspek psikologis dan sosial pada diri anggota organisasi, baik sebagai individu maupun kelompok kerja.

Tokoh teori ini diawali oleh Elton Mayo (1927) yang membentuk aliran antar manusia (human relation school), memandang organisasi sebagai sesuatu yang terdiri dari tugas-tugas dari sisi manusia dibanding sisi mesin. Pada masa ini dilakukan percobaan yang menyangkut rancang ulang pekerjaan, perubahan panjangnya hari kerja dan waktu kerja dalam seminggu, pengenalan waktu istirahat, serta rencana upah individual dibandingkan dengan upah kelompok. Disimpulkan bahwa norma sosial kelompok merupakan kunci penentu perilaku kerja seseorang. Kemudian Hawthorne mempersatukan pandangan Taylor, Fayol, dan Weber dengan kesimpulan bahwa organisasi merupakan sistem kerjasama.


C.  Teori Organisasi Modern
Teori organisasi klasik dan teori organisasi neoklasik ternyata dinilai belum memuaskan untuk tuntutan manajemen modern. Banyak kelemahan dan ketimpangan yang masih ditemukan sehingga mendorong munculnya teori organisasi modern pada 1950. Teori organisasi modern ini kemudian dikenal dengan nama ”analisis sistem” atau ”teori terbuka” yang memandang organisasi sebagai satu kesatuan dari berbagai unsur yang saling bergantung. Beberapa perbedaan mencolok antara teori modern dengan teori klasik adalah sebagai berikut :
1. Teori organisasi klasik menitikberatkan pada analisis dan deskripsi, sementara teori organisai modern menekankan pada keterpaduan dan perancangan secara menyeluruh
2.Teori organisasi klasik terfokus pada konsep, skalar dan hubungan vertikal, sementara teori organisasi modern cenderung horizontal, dinamis dan multidimensi.

Teori ini muncul pada tahun 1950 sebagai akibat ketidakpuasan dua teori sebelumnya yaitu klasik dan neoklasik. Teori Modern sering disebut dengan teori “Analisa Sistem” atau “Teori Terbuka” yang memadukan antara teori klasik dan neo-klasik. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Organisasi bukan sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakan sistem terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan apabila ingin survivel atau dapat bertahan hidup maka ia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.

4. Perbandingan Antara Teori Modern Dengan Teori Klasik
Teori Klasik memusatkan pandangan pada analisa dan deskripsi organisasi sedangkan Teori Modern menekankan pada perpaduan dan perancangan sehingga terlihat lebih menyeluruh. Sedangkan Teori Klasiklebih khusus membicarakan konsep koordinasi, scalar, dan vertikal sedangkan Teori Modern lebih dinamis, sangat komplek, multilevel, multidimensi dan banyak variable yang dipertimbangkan.




KESIMPULAN

Organisasi sebagai salah satu bentuk kehidupan dalam masyarakat pasti mengalami perubahan. Organisasi menghadapi berbagai tantangan baik yang berasal dari dalam diri organisasi maupun yang berasal dari dalam diri organisasi maupun yang berasal dari lingkungan yang merupakan penyebab organisasi harus dirubah. Tantangan yang berasal dari dalam organisasi, misalnya; volume kegiatan yang bertambah banyak, adanya peralatan baru, perubahan tujuan, penambahan tujuan, perluasan wilayah kegiatan, tingkat pengetahuan dan teknologi, tingkat keterampilan, sikap, serta perilaku para pegawai.
Tantangan yang berasal dari lingkungan organisasi, misalnya; adanya peraturan baru, perubahan kebijaksanaan dari tingkat organisasi yang lebih tinggi, perubahan selera masyarakat terhadap produk, perubahan mode, dan perubahan gaya hidup masyarakat. Strategi menghadapi tantangan internal maupun eksternal
Untuk menghindari timbulnya konflik dalam perubahan perlu adanya; perencanaan yang matang, pemberian informasi yang jelas kepada semua pihak yang terlibat dalam perubahan, menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan yang akan dilaksanakan tidak akan menimbulkan akibat negative baik bagi para pejabat maupun bagi organisasi. Sumber perubahan, yaitu:
(1) dari dalam organisasi sendiri;
(2) kriteria kepuasan (ekspektasi) anggota organisasi meningkat;
(3) tekanan dari luar organisasi meliputi perubahan permintaan dan kekuasan.
Sedangkan sumber-sumber yang mendorong diadakan perubahan menurut antara lain; lingkungan berupa stimulasi lingkungan  tujuan dan nilai karena adanya orientasi baru dalam nilai-nilai yang dianut, perkembangan teknologi baik dalam pengadaaan perangkat teknologi maupun dalam penguasaan keterampilan dalam  menggunakannya, perubahan structural organisasi bila mengalami perubahan maka subsistem lain harus mengadakan penyesuaian, perubahan karena factor psiko-sosial didalamnya termasuk motivasi dan iklim kerja yang mempengaruhi produktivitas organisasi, perubahan system manajerial meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi dan pengontrolan menyangkut pula pengambilan keputusan serta komunikasi untuk menjaga koordinasi dari bagian-bagian organisasi. Pendekatan modern dalam manajemen tidak lepas dari pemikiran pendekatan klasik, Sumber Daya Manusia (SDM) maupun kuantitatif. Pendekatan modern mengatakan tidak satupun teori atau model yang bisaditerapkan secara universal




DAFTAR PUSTAKA

Prayitno. 1975. Pelayanan Bimbingan Di Sekolah. Jakarta : Ghalia Indonesia.
A.R, Tatang Hidayat. 2009. Inspiring Word. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Tohirin. 2007.Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (berbasis integrasi). Jakarta :PT Raja Grafindo Persada.
1)Jurnal Organisasi dan Komunikasi Organisasi(255-483-1-SM)
Sumber: ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/Kutubkhanah/article/download/255/240
2)Jurnal TEORI ORGANISASI SUATU TINJAUAN PERSPEKTIF SEJARAH (86-156-1-SM)
Sumber:  https://jurnal.unpand.ac.id/index.php/dinsain/article/view/86/83
3)Jurnal Paradigma dalam Teori Organisasi dan Implikasinya pada Komunikasi Organisasi (34-187-1-PB)
Sumber: jurnal.uai.ac.id/index.php/SPS/article/download/34/32 








Selasa, 25 Juni 2013

Gulat Profesional ( Pro Wrestling)

Gulat profesional (sering disingkat gulat pro, atau hanya gulat) adalah tontonan, menggabungkan atletik dan kemampuan teater. Yang diselenggarakan oleh perusahaan tur, yang meniru pertandingan olahraga berkelahi. Bentuk unik olahraga ini digambarkan secara fundamental didasarkan pada  gerakan klasik dan "menangkap"  dari gerakan gulat, dengan tambahan gerakan modern seperti serangan mencolok, serangan berbasis kekuatan memegang dan melempar, dan  serangan manuver akrobatik (lompat-lompat indah) , banyak di antaranya berasal dari pengaruh berbagai seni bela diri internasional
a
Pertandingan telah ditentukan untuk meningkatkan nilai hiburan, dan semua manuver dan serangan  agresif dijalankan dengan kerja sama penuh dari mereka yang terlibat dalam pertandingan dan dilakukan dengan hati-hati yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan cedera yang sebenarnya. Fakta-fakta ini dulunya disimpan sangat rahasia. namun sekarang rahasia terbuka dan dapat diterima secara luas.Seperti Gambar diatas Brand Gulat yang menyediakan wadah tempat Bergulat.Yang sengaja membuat event-event yang menarik untuk menarik penonton, pertandingan sudah diatur sedemikian rupa dan disetting ada kejadian-kejadian menarik dalam pertandingan untuk menaikkan ratting acara.Gulat Pro berasal dari tontonan pameran di Amerika Utara yang melakukan tour karnaval dan ruang vaudeville. Gulat profesional berkembang menjadi sebuah genre hiburan mandiri dengan banyak variasi gerakan yang berasal dari beragam budaya di seluruh dunia, dan sekarang dianggap sebagai industri hiburan multi-juta dolar ( Bisnis yang dapat Menghasilkan Jutaan Dollar). Di Amerika Utara, telah mengalami beberapa periode yang berbeda popularitas. Munculnya televisi membuat gulat pro outlet baru, dan gulat (bersama dengan tinju) sangat berperan dalam membuat acara menjalar ke seluruh masyarakat, sehingga Acara Gilat Pro semakin Mudah dilihat, apalagi dengannya adanya internet semua orang bisa menonton  acara gulat dimana saja..
DI AWAL TAHUN 1960-an, menurut penuturan seorang bapak sepuh, acara televisi di Amerika Serikat yang paling digemari masyarakatnya kala itu adalah acara wrestling. Pelakunya disebut Wrestler.Meski wrestling ini basisnya adalah olahraga gulat, namun dalam tampilan on air (di televisi) maupun off air (di atas arena atau ring), mirip olahraga tinju karena menjadikan ring (tinju) sebagai arena utamanya.Olahraga gulat, sebagaimana sudah diketahui banyak orang, berlangsung di sebuah arena berbentuk  lingkaran di atas lantai berlapis matras (alas lantai untuk olahraga). Dalam olahraga ini tidak ada pukul-memukul atau tendang-menendang.Berbeda dengan olahraga gulat, dalam wrestling ada pukul-memukul dan tendang-menendang, bahkan injak-menginjak lawannya. Meski terkesan keras dan brutal, namun sesungguhnya wrestling hanyalah hiburan yang dilakoni oleh para wrestler terlatih (profesional). Sehingga, terhindar dari kemungkinan luka serius.Jadi, wrestling sama sekali berbeda dengan olahraga tinju, thay boxing, atau ultimate fighting. Perbedaan mendasar lainnya, pertarungan yang terkesan brutal pada wrestling ini sesungguhnya hanya pura-pura. Untuk menyuguhkan tontonan yang menarik, kepura-puraan itu sebelum disajikan di depan publik sudah melalui proses pelatihan yang intensif.Para petarung wrestling ini biasanya tampil dalam sebuah tim yang namanya seram-seram. Di atas pentas, ketika Tim A sedang bertarung melawan Tim B, yang terlihat adalah sebuah pertarungan yang seperti sungguh-sungguh, penuh kekerasan bahkan brutal. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya, dua tim atau dua sosok yang terlihat seperti musuh bebuyutan di arena, kenyataannya bisa dilihat sedang menghabiskan waktu bersama di pemancingan umum.Di Indonesia wrestling kurang begitu dikenal. Tapi pada awal 1990-an ada nama smackdown yang miripwrestling, dan digemari penonton televisi kita.  Akhirnya smackdown dilarang, karena kebodohan anak-anak dan lemahnya pengawasan orang tua Yaitu, anak-anak pra remaja mempraktekkan smackdown terhadap sesama kawannya sehingga timbul korban seperti patah tulang dan sebagainya. Bahkan ada yang meninggal dunia.  Dinegara asalnya saja ( Amerika) orang tua sering membawa anaknya untuk menonton gulat, tapi anak-anak di Amerika tidak meniru adegan yang mereka tonton, itu bukti anak-anak dan pra remaja di Indonesia sangat lambat dalam menelaah suatu acara.Mereka meniru smackdown karena sama sekali tidak mengetahui bahwa pertunjukan itu dilakukan oleh dua sosok atau dua tim yang terlatih, untuk mendapatkan sejumlah imbalan. Mereka sudah berlatih bersama secara intensif sebelum menyajikan kepura-puraan yang menghibur itu. Bahkan, rating stasiun televisi yang menayangkan acara itu meningkat cukup signifikan kala itu.





JENIS PERTANDINGAN GULAT PROFESIONAL: 

Pertandingan SinglePertandingan satu lawan satu dengan peraturan yg sudah ditentukan

Pertandingan Tag TimPertandingan yang menggunakan team ( lebih dari dua orang) 


Pertandingan HandicapPertandingan yang lawannya banyak ( 1 lawan 2 ) bersifat mengeroyok 


Pertandingan Iron Man

S
etiap pegulat berlomba untuk lebih banyak mengalahkan ( Submid and Pin fall) lawan ( jika sudah kalah pertandingan terus berlanjut sampe waktunya habis, siapa yang lebih banyak kalah maka dia kalah) pertandingannya single


Pertandingan LumberjackPertandingan single yang disaksikan oleh banyak pegulat, jika keluar ring sebelum pertandingan usai maka pegulat lain berhak memukulinya


Pertandingan Hardcore


Pertandingan single atau tag team dimana si pegulat di perbolehkan menggunakan senjata, dan biasanya berdarah

Pertandingan TanggaPertandingan dimana setiap pegulat harus mengambil sabuk, koper atau kontrak yang digantung dengan menggunakan tangga.


Pertandingan Kurungan (Cage Match)Pertandingan yang menggunakan kandang kurungan, untuk memenangkan pertandingan pegulat bisa mengunci ( pinfall ) lawan, memiting( submid) atau keluar dari kurungan dengan cara memanjat


Pertandingan Berdasarkan Tempat (Brawl)Terkadang untuk manarik penonton beberapa Brand Gulat membuat pertandingan di luar ring, seperti di parkiran, gudang, di belakang stage dan lain- lain tapi karena pertandingan ini beresiko mencedarai pegulat maka pertandingan ini sudah jarang dilakukan.



Pertandingan First blood


Setiap pegulat berlomba untuk membuat lawannya berdarah, pegulat yang duluan berdarah maka dia dianggap kalah, tapi pertandingan ini sudah jarang dipertandingkan karena berbahaya bagi pegulat







Sekian informasi saya tentang Gulat Pro (Gulat Yg Sudah Diatur) Tolong jangan tiru ini di Rumah! karena gulat ini hanya dilakukan oleh para pegulat yang sudah mahir dan tau cara menghindari cedera. jika ada yang salah saya berterima kasih jika anda memberitahukannya... 



Gulat (Wrestling)

PENGERTIAN OLAHRAGA GULAT: Gulat adalah kontak fisik antara dua orang, di mana salah seorang pegulat harus menjatuhkan atau dapat mengontrol musuh mereka.

Peraturan Pertandingan Gulat

Sesuai dengan unsur, maka olahraga gulat dibagi dalam kelompok sebagai berikut :
a. Gulat Mini : 6 – 12 tahun
b. Gulat Anak-Anak : 13 – 16 tahun
c. Gulat Yunior : 17 – 20 tahun
d. Gulat Senior : di atas 20 tahun

Pertandingan olahraga gulat dilakukan di atas matras, berukuran 12 x 12 meter sesuai dengan peraturan gulat internasional. Peraturan pertandingan gulat internasional. Peraturan pertandingan yang dipakai juga peraturan pertandingan gulat internasional dari FILA yang sudah disahkan oleh PB. PGSI.


Pegulat selama bertanding harus memakai baju internasional (wrestlingsuit) sesuai dengan warna dari sudut mana dia berada, biru atau merah. 

Wasit berada diantara kedua pegulat di lingkaran tengah, satu tangan diluruskan ke depan, kemudian peluit dibunyikan dan lengan wasit ditarik kembali. Pada waktu bertanding, bilamana kedua pegulat tinggal diam beberapa saat maka wasit berteriak open agar supaya daerah serangan dibuka untuk memberi kesempatan pada lawannya melakukan serangan. Setelah itu diharapkan kedua pegulat mengadakan kontak satu sama lain. Setelah kedua pegulat itu mengadakan kontak maka diharuskan adanya serangan salah satu pihak, kalau tidak maka wasit harus berteriak action.

Setiap kali wasit berteriak open, action, ataupun contact, pegulat harus mengerjakan hal itu. Kalau pegulat itu tidak bereaksi maka wasit wajib menghentikan pertandingan dan memberikan peringatan kepada kedua pegulat itu. Bila hal ini terulang setujuan juri atau pres met wajib memberikan suatu angka hukuman. Pemberian angka hukuman ini secara jelas dilakukan oleh wasit sedemikian rupa sehingga juri dan ketua pertandingan serta umum jelas melihatnya. Wasit memanggil kedua pegulat pada lingkaran tengah menghadap ketua pertandingan, salah satu tangan wasit memegang pergelangan tangan pegulat yang mendapat hukuman lurus ke bawah di sisi badan. Sedangkan tangan terbuka, semua jari lurus ke atas dan rapat satu sama lain. Juri dan ketua pertandingan mengangkat papan angka satu yang berwarna sesuai dengan tangan wasit yang diangkat. Ini menunjukkan bahwa satu angka diberikan kepada pegulat yang berwarna merah, maka juri mengangkat papan merah yang berangka 1.

Lama Pertandingan

Setelah Olympic Games tahun 1964 di Tokyo, Jepang, waktu pertandingan menjadi 3 x 3 menit jatuhan. Sebelumnya pertandingan berlangsung selama 12 menit yang terdiri dari dua periode. Periode pertama berlangsung 6 menit yakni bergulat berdiri atau jongkok. Periode kedua, pegulat ditanya oleh wasit apakah hendak bergulat berdiri atau jongkok. Kalau kedua pegulat setuju berdiri maka periode itu berlangsung 6 menit lagi. Akan tetapi jika kedua pegulat memilih bergulat jongkok, maka wasit mengadakan undian untuk menentukan pegulat yang mana terlebih dahulu jongkok dan pegulat yang mana pula yang menyerang lebih dahulu.

Pegulat dinyatakan kalah jatuhan bila pundaknya mengenai lantai dalam hitungan 10 (sepuluh). Jadi pada waktu seseorang pegulat ditekan lawannya maka wasit menghitung seperti wasit tinju bila petinju itu dipukul jatuh.


Bila juri dan ketua pertandingan tidak setuju angkatlah papan putih. Begitu wasit melihat dukungan salah satu petugas itu segera dia menepuk matras pertanda salah satu pegulat dinyatakan touche (jatuhan).

Dukungan juri/pres mat itu dinyatakan dengan mengangkat papan merah/hijau, bahwa pegulat itu kalah jatuhan. Papan itu harus diangkat supaya wasit melihat dengan jelas. Begitu juga wasit harus melirik ke petugas untuk melihat reaksinya.

Juri/pres mat, untuk meyakinkan jatuhan, dia boleh bergerak dari kursinya, tapi jangan terlalu jauh agar dia bisa kembali dengan segera dan tetap dapat dilihat oleh wasit. Keadaan bahaya (dangerous) bagi seorang pegulat adalah suatu hal yang diharapkan oleh lawannya karena dia akan melihat nilai bantingan (technical point). Nilai dua diberikan kepada lawannya bilamana keadaan bahaya itu kurang dari 5 detik dan nilai 3 diberikan bila lebih dari 5 detik.

Gaya yang dipertandingkan dan kelasnya

Olahraga gulat mempertandingkan 2 macam gaya yaitu gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi. Gulat gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi masing-masing meliputi kelas-kelas :

1. Kelas 48 kg
2. Kelas 52 kg
3. Kelas 57 kg
4. Kelas 62 kg
5. Kelas 68 kg
6. Kelas 74 kg
7. Kelas 82 kg
8. Kelas 90 kg
9. Kelas 100 kg
10. Kelas 100 kg, + (over + 100 kg).

Sejarah Gulat

Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia ( PB. PGSI )

Berdasarkan faktar-fakta sejarah, gulat adalah cabang olahraga yang cukup tua umurnya. Di bawah ini diuraikan secara singkat sejarah gulat yang sebahagian besar diikuti dari buku The Olympic Guide dan ditambah juga dari buku Der Freis Ringkamf Handbuchfur Trainer und Ubungsliter serta wawancara dengan anggota pengurus persatuan Gulat Seluruh Indonesia tingkat pusat dan daerah.

Zaman Prasejarah

Pada tahun 2500 SM gulat telah menjadi suatu mata pelajaran di suatu sekolah di negara Cina. Begitu juga sekitar tahun 2050 SM gulat telah dipelajari oleh orang-orang Mesir. Hal ini ketahui berdasarkan peninggalan bangsa Mesir pada waktu itu. Salah satu peninggalannya tersebut berupa gambar-gambar yang menunjukkan teknik-teknik bergulat yang terdapat pada dinding Raja Bani Hasan. Selain itu sejarah juga menunjukkan bahwa negara-negara lainpun terdapat suatu jenis perkelahian yang serupa dengan bentuk-bentuk bergulat, seperti Sumo di Jepang, Glima di Iceland, Sohwingen di Swiss, Lancasshire di Scotch, Gumberland di Irish, Caterhras Chath Can di Amerika Serikat dan Greco Roman di Yunani.

Olympiade

Sejak Olympiade kuno, gulat telah menjadi suatu acara pertandingna, walaupun acara tersebut diadakan di dalam acara Penthalon. Peserta yang mengikuti pertandingan Pentahlon itu harus mengikuti pertandingan lompat jauh, lempar lembing, lari cepat, lempar cakram dan bergulat.

Pada Olympiade – I tahun 1896 di Athena, gulat gaya Yunani-Romawi menjadi suatu acara pertandingan tersendiri. Pegulat-pegulat tuan rumah pada umumnya memenangkan pertandingan. Hal ini disebabkan karena peraturan yang dipakai pada waktu itu tidak sama dengan peraturan yang dipakai di negara-negara peserta. Setelah itu pada setiap penyelenggaraan Olympiade, tuan rumahlah yang selalu menentukan peraturan pertandingan yang ditentukan. Bahkan gaya gulat yang dipertandingkan tuan rumah juga yang menentukannya, walaupun negara peserta lainnya belum menguasai gaya gulat itu.

Pada Olympiade – III tahun 1904 di St. Louis, Amerika Serikat maka acara pertandingan gulat hanya untuk gaya catehras catch can saja. Gaya gulat ini sangat digemari oleh rakyat Amerika Serikat sementara negara-negara lain merasa kecewa karena mereka pada umumnya mempelajari gaya Yunani-Romawi. Memang antara kedua gaya ini sangat jauh perbedaannya. Dalam gulat gaya Yunani-Romawi, peserta hanya diperbolehkan menyerang lawan dari batas pinggang ke atas dan tidak boleh menggunakan kaki sebagai alat untuk menyerang. Sedangkat gulat gaya catch as catch can hampir semua tangkapan diperbolehkan, malahan kunci-kunci mematahkan lawan juga diperbolehkan.

Inggris sebagia tuan rumah Olympiade IV tahun 1908, mengadakan pertandingan gulat untuk dua gaya yaitu Yunani-Romawi dan catch as catch can. Diluar dugaan Amerika Serikat sebagai juara gaya catch as catch can mendapat perlawanan yang keras dari negara-negara yang berasal dari Eropa. Meskipun demikian kekacauan dari negara peserta masih ada sebab peraturan pertandingan belum seragam.

Peraturan gulat internasional baru diadakan pada Olympiade XI tahun 1936 di Berlin, Jerman. Pada waktu itu juga dibentuk Federasi Gulat Internasional atau Federation Internationale de Lutte Amateur (FILA). Sejak itu FILA memperbaiki peraturan gulat internasional.

Perkembangan Gulat di Indonesia

sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia sudah mengenal gulat internasinal. Gulat ini dibawa oleh tentara Belanda. Masyarakat Indoensia ketika itu mengenal gulat sebagai tontonan di pasar malam atau pada pesta-pesta di kota besar sebagai acara hiburan.

Tahun 1941 – 1945 sewaktu Indonesia diduduki tentara Jepang, seni bela diri Jepang seperti Judo, Sumo dan Kempo masuk pula ke Indonesia, sehingga gulat secara berangsur-angsur menjadi hilang.

Tahun 1959 di Bandung pernah diadakan pertandingan gulat bayaran antara Batling Ong melawan Muh. Kunyu dari Pakistan. Dari Pakistan pertandingan itu mendapat perhatian yang cukup besar dari pencadu olahraga gulat di Indonesia, khususnya masyarakat di kota Bandung. Pertandingan itu diselenggarakan oleh PERTIGU (Persatuan Tinju dan Gulat), suatu wadah olahraga amatir dan profesional tinju dan gulat di Indonesia. Mengingat pada waktu itu pemerintah dalam hal ini menteri olahraga tidak membernarkan adanya Organisasi Olahraga Tinju dan Gulat bayaran. Terlebih-lebih dengan adanya kebutuhan nasional dimana Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, maka ketua OC Asian Games menunjuk Kolonel CPM R. Rusli (sekarang Mayjen Purn), untuk membentuk suatu organisasi gulat amatir. Maksudnya Pemerintah berkeinginan agar Indonesia dapat menerjunkan pada pegulatnya dalam arena Asian Games IV itu. Kol. Rusli yang mendapatkan mandat dari Ketua OC Asian Games IV tahun 1962 itu segera melaksanakan tugasnya. Dihubunginya beberapa tokoh olahraga yang ada di Bandung diantaranya Batling Ong, Ong Sik Lok, M.Cc. M.F. Siregar, M.Sc., H.B. Alisahbana dan Abdul Djalil.

Selain beberapa kali mengadakan pertemuan di rumah Kol. R. Rusli di jalan Supratman Bandung, maka tepatnya pada tanggal 7 Pebruari 1960 didirikanlah sebuah organisasi gulat amatir Indonesia dengan nama Persatuan Gulat Seluruh Indonesia yang disingkat PGSI.

Dengan adanya kejuaraan dunia di Yokohama tahun 1961, maka PGSI mengadakan seleksi nasional untuk menentukan tim Indonesia ke kejuaraan dunia yang berlangsung pada bulan Juni 1961.

Empat pegulat terpilih dalam seleksi itu untuk mewakili Indonesia yaitu Rachman Firdaus (kelas 68 kg gaya bebas) Yoseph Taliwongso (kelas 68 kg gaya Yunani-Romawi) Sudrajat (kelas 62 kg gaya bebas) ketiganya dari Bandung, seoran gdari Yogyakarta yakni Elias Margio (kelas 62 kg gaya Yunani). Mereka ini didampingi oleh Kapten Obos Purwono sebagai tim manajer serta Batling Ong sebagai pelatih.

Dalam PON V tahun 1961 di Bandung olahraga gulat termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dengan mengambil tempat di Bioskop Varia (sekarang Nusantara). Daerah-daerah yang telah mempunyai pengurus mengirimkan para pegulatnya juga. Namun Jawa Barat tetap memborong medali terbanyak.

Tahun 1962 Asian Games IV berlangsung di Jakarta. Indonesia menurunkan para pegulatnya secara full team, mulai dari kelas 52 kg sampai dengan 87 kg. Prestasi para pegulat kita belum begitu menggembirakan, Indonesia hanya meraih 2 medali perunggu melalui gulat Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang keduanya bertanding dalam gaya Yunani-Romawi.

Dalam Ganefo I (Games of The New Emerging Forces) yang berlangsung di Jakarta tahun 1963, Indonesia juga mengikutsertakan pegulatnya. Yoseph Taliwongoso yang bertanding di kelas 70 kg, gaya Yunani-Romawi berhasil meraih medali perak, sedangkan Suharto kelas 97 kg, meraih perunggu.

Tahun 1964 PB. PGSI mengirimkan para pegulatnya ke RRC dan Korea Utara untuk menambah pengalaman. Diantara para pegulat yang dikirimkan itu ialah Rachman Firdaus, Joseph Taliwongso, Bambang Kantong, Saut Tambunan dan Wachmana.

Tahun 1965 menjelang diselenggarakannya PON VI di Jakarta, muncul pegulat-pegulat yang penuh bakat, seperti Suparman Hamid, Tigor Siahaan, Johny Gozali. Sayang para pegulat ini belum sempat menampilkan kebolehannya dalam arena PON VI yang batal karena situasi politik dan mengakibatkkan tersendat-sendatnya kemajuan para pegulat Indonesia.

Tahun 1966 menjelang Asian Games V di Bangkok, PGSI mengadakan kejuaraan nasional di Bandung. Setelah melakukan seleksi yang ketat terpilih pegulat-pegulat Rachman Firdaus, S.H., Ir. Suparman Hamid dan Ir. Saut Tambunan untuk memperkuat kontingen Indonesia.

Tahun 1967, diselenggarakan kejuaraan nasional di Surabaya, kesempatan ini merupakan yang terakhir kalinya dihadiri oleh Bapak Gulat Indonesia Batling Ong Hong Liong.

Tahun 1968, merupakan tahun yang sepi bagi PGSI karena tidak adanya kegiatan tingkat nasional. Kesempatan ini diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi PON VII tahun 1969 di Surabaya.

Tahun 1969, diadakan PON VII di Surabaya dimana para pegulat dari daerah-daerah Sumatera Utara, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan mengukur kekuatannya dalam arena tersebut. Daam PON VII ini terlihat olahraga gulat semakin berkembang bahkan muncul pula wajah-wajah baru yang penuh semangat dan berbakat.

Tahun 1970, PGSI mendapat kesempatan lagi untuk ambil bagian dalam Asian Games VI di Bangkok. Untuk itu PGSI mulai menyusun tim dengan terlebih dahulu mengadakan kejuaraan nasional di Bandung. Para pegulat yang terpilih adalah Tigor Siahaan, Sampurno, Darmanto, dan Johny Gozali, namun kali ini gulat juga belum berhasil memperoleh medali untuk disumbangkan di pangkuan Ibu Pertiwi.

Tahun 1971, untuk pertama kalinya dan ternyata merupakan terakhir kalinya gulat dipertandingkan pula dalam POM (pkean Olahraga Mahasiswa) di Palembang.

Tahun 1972, menjelang PON VIII di Jakarta, terlebih dahulu diadakan babak kualifikasi bagi daerah-daerah yang akan ikut serta dalam PON. Untuk pelaksanaannya tahun itu juga PGSI menyelenggarakan kejuaraan Nasional di Medan dan bagi pegulat yang lolos dari babak kualifikasi dapat ikut serta dalam PON VIII tahun 1973 di Jakarta.

Dalam PON VIII ini pula dipertandingkan gulat dalam 2 nomor yakni gaya Yunani-Romawi dan gaya bebas.

Tahun 1973, ini PGSI juga kembali ikut serta dalam kejuaraan gulat di Glanbator, Mongolia dan tim Indonesia terdiri dari Tigor Siahaan, Syampurno, Johny Gozali dan Darmanto.

Selain itu kegiatan internasional yagn diikuti oleh para pegulat kita adalah :

- Tahun 1974 Asian Games VII di Teheran, PGSI mengirimkan pegulat Tigor Siahaan kelas 48 kg dan Johny Gozali kelas 62 kg ; kejuaraan dunia tahun 1978 di Mexico PGSI menerjunkan pegulat-pegulat Suwarto kelas 57 kg, Alfan Sulaiman kelas 62 kg, Tahi Sihombing kelas 68 kg dan Eddy Santoso kelas 74 kg.
- Tahun 1980, di Rumania PGSI mengirimkan pegulat Suwarto kelas 57 kg, Edison kelas 62 kg dan Alfan Sulaiman kelas 68 kg.
- Tahun 1982, Asian Games IX di New Delhi, PGSI mengirimkan Rubianto Hado kela s48 kg, Rusdi kelas 57 kg, dan Alfan Sulaiman kelas 62 kg.
Sejak pembentukannya tahun 1960 PGSI telah banyak melakukan kegiatan baik lokal, nasional maupun internasional. Frekuensi pertandingan bertambah dan daerah baru PGSI juga bertambah.

Saat ini di seluruh Indonesia PGSI mempunyai 17 Pengda :

  1. Pengda PGSI Sumatera Utara, jalan Karantina 50 Medan,
  2. Pengda PGSI Sumatera Barat, jalan Arief Rahman Hakim 6 Padang
  3. Pengda PGSI Riau, Kepala Kantor Kecamatan Tebing Tinggi di Selat Panjang
  4. Pengda PGSI Sumatera Selatan, GOR KONI Sumatera Selatan jalan Kapten A. Rivai Palembang
  5. Pengda PGSI Jawa Barat, jalan Aceh 47- 49 Bandung
  6. Pengda PGSI DKI Jaya, Manajer Stadion Utama Senayan Pintu 8 Jakarta
  7. Pengda PGSI Jawa Tengah, SGO jalan Atmodirono 2/4 Semarang.
  8. Pengda PGSI D.I. Yogyakarta, jalan Dr. Wahidin 20 Yogyakarta
  9. Pengda PGSI Jawa Timur, jalan Ngagel Timur II/30 Surabaya
  10. Pengda PGSI Kalimantan Tengah , SMOA Negeri Palangkaraya
  11. Pengda PGSI Kalimantan Selatan, Kantor Depdikbud Kecamatan Banjar Barat jalan Batu Tiban Banjarmasin.
  12. Pengda PGSI Kalimantan Timur, SGO Negeri Samarinda jalan pahlawan Samarinda
  13. Pengda PGSI Sulawesi Utara, KONI Propinsi Sulawesi Utara jalan A. Yani Manado.
  14. Pengda PGSI Sulawesi Selatan, jalan Hatimurah 2 Ujung Pandang Pengda PGSI Sulawesi Tengah, Sdr. Suwardji SKKP negeri palu.
  15. Pengda PGSI Sulawesi Tenggara, Sdr. Watimena jalan Fajarmerantau Kendari.
  16. Pengda PGSI Irian Jaya, KONI Irian Jaya Jayapura.

Sekian informasi Gulat dari saya... Informasi ini sebagian saya ambil dari beberapa sumber yg saya lupa darimana asalnya, tapi saya meminta maaf. Jika ada yang salah silahkan diberi tahu! saua ucapkan terima kasih bagi yang membaca artikel saya.

Rabu, 17 April 2013

PENGERTIAN FISIOLOGI OLAHRAGA



PENGERTIAN FISIOLOGI OLAHRAGA

17APR
Fisiologi

Ilmu yg mempelajari fungsi dan cara kerja organ-organ tubuh serta perubahan-perubahan yang terjadi akibat pengaruh dari dalam maupun dari luar tubuh.

Fisiologi Olahraga

Adalah bagian atau cabang dari fisiologi yg khusus mempelajari perubahan fungsi yang disebabkan oleh latihan fisik:

  • Bagaimana perubahan fungsi itu dpt terjadi apabila seseorang melakukan latihan tunggal  (acute exercise).

  • Perubahan apa yg dpt terjadi pada fungsi tubuh setelah melakukan latihan berulang-ulang (chronic exercise) dan bagaimana perubahan fungsi tubuh itu berlangsung.

  • Apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan respon dan adaptasi tubuh thd latihan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.

Faal olahraga mempelajari perubahan-perubahan fungsi organ-organ baik yg bersifat sementara (akut)  maupun yg bersifat menetap karena melakukan olahraga baik untuk tujuan kesehatan maupun utk tujuan prestasi.

Fisiologi Olahraga merinci dan menerangkan perubahan fungsi yg disebabkan oleh latihan tunggal (acute exercise) atau latihan yg dilakukan secara berulang-ulang (chronic exercise)dengan tujuan untuk meningkatkan respon fisiologis terhadap intensitas, durasi, frekuensi latihan, keadaan lingkungan dan status fisiologis individu. Fungsi dan mekanisme kerja organ-organ tubuh akan selalu bereaksi  dalam rangka penyesuaian diri demi terciptanya “HOMEOSTASIS” (kecenderungan organisme hidup untuk mempertahankan lingkungan dalam “Millieau Interieur” yang stabil bagi selnya.

Berolahraga adalah melakukan suatu kegiatan tubuh yang melibatkan organ-organ tubuh (Jantung, paru, otot, syaraf, pembuluh darah, otot, kelenjar dst). Aktivitas olahraga akan menimbulkan reaksi dari organ-organ tubuh berupa usaha-usaha penyesuaian diri. Derajatkesehatan sel menentukan kualitas fungsional atau vitalitasnya, yg dengan sendirinya akan menentukan derajat kesehatan, kualitas hidup dan vitalitas kehidupan undividu yg bersangkutan.

Dari sudut pandang ilmu faal pelatihan atau aktifitas olahraga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fungsional sel, yang dengan sendirinya berarti juga meningkatkan kemampuan fungsional individu (manusia) yg bersangkutan. Pelatihan/aktivitas olahraga harus bersifat fisiologis  yaitu: dari sudut pandang sel tidak menyebabkan gangguan Homeostasis yg melebihi batas-batas fisiologis. Perubahan kondisiHomeostasis harus sudah pulih dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.

Pengetahuan dasar tentang apa yang terjadi selama latihan fisik dan bagaimana perubahan itu terjadi sangat penting untuk dimiliki oleh pelatih, pembina, guru olahraga, atlet dan mahasiswa olahraga.

Proses Penyesuaian diri akan tergantung pada:

  1. Stressor - nya: Jenis olahraga, Intensitas, waktu, frekuensi yang dilakukan, dll

  2. Organic – nya: adalah faktor-faktor yang dimiliki individu bersangkutan, untuk dapat melakukan penyesuaian fungsional secara maksimal (Umur, seks, kesegaran jasmani, kesehatan dst)

  3. Keadaan lingkungan : panas, dingin, lembab, ketinggian dst.

 

Reaksi penyesuaian diri dapat berupa:

  1. Jawaban sewaktu (Respon)

  2. Adaptasi organ-organ tubuh


sumber : Fisiologi Olahraga dan Kesehatan, Drs. Tri Rustiadi, M.Kes.